BASKETBALLIFE

Lebih Tenang, Lebih Jernih

Posted by: Andika on: February 21, 2009

Hari ini, seperti waktu-waktu sebelumnya, kita basket bareng alumni di sekolahan.
SMA 3 memang tempat favorit untuk berbasket ria.
Hari ini ada sesuatu yang berbeda, yaitu orang-orang yang datang tidak seperti biasanya.
Setengah dari kami, adalah anak-anak Fakultas Kedokteran UNDIP, teman tim salah satu alumni.
Mereka pernah aku lihat sebelumnya, tapi sudah lama sekali.
Sisanya anak-anak basket alumni yang sering muncul biasanya.

Sialnya, aku dapat tim yang rata-rata tingginya sama.
Cuman aku yang paling kecil.

Posisi (red: posisi pemain basket) mereka rata-rata sama.
Berarti, sifat mereka juga sama!
Kami main seperti biasa.
Aku menganggap belum kenal karakter mereka masing-masing.
Aku pelajari karakter timku sambil bermain-main.

Yang menjengkelkan adalah sifat mereka yang hampir sama waktu pegang bola.
Mereka adalah pemain yang individualis.
Setiap kali bola di tangan, indivualitas mereka muncul.
Tanpa memperhatikan kawan, ingin menyelesaikan urusannya sendiri.
Entah nembak sendiri lah, suka main-mainkan bola yang aneh-aneh lah, mamaksakan dribble kuenceng sendiri lah.
Ckckck…

“I have the ball, I must finish it by myself.”

Mungkin itu yang ada di pikiran mereka.
Sebuah berita buruk karena mereka timku.
So tired, dah…
null

Memang mereka orang yang jago-jago dengan teknik mereka yang handal.
Tapi pada waktu yang sama, mereka tidak ingat, kalau lawan mereka juga jago.
Postur lawan juga bervariasi, lengkap dah.

Suasana semakin memanas –alaah, memanas cuy…
Badan mulai capek, permainan gak berkembang.
Sering gagal masukkan bola, malah kemasukan bola melulu.
Ditambah lagi aku jadi ikut-ikutan seperti mereka secara tidak sadar –main individu.
Seperti emosi rasanya.

Gimana enggak?
Napas ngos-ngosan.
Mainnya ugal-ugalan, tapi masukkan bola jarang.
Pikiran sudah pasti kacau.
Cuma capek yang didapat.
null

***

Lama-kalamaan aku mulai paham karakter mereka.
Seperti mendapat sebuah pencerahan dari langit, aku buang indivualistas yang tidak sadar menempel.
Aku mulai duluan dengan memperpelan tempo permainan sewaktu bola aku yang pegang.
Tarik napas panjang, memberanikan diri mengatur mas-mas yang lebih tua itu, meminta untuk tenang dulu.

“Gak perlu buru-buru, mas! Nyantai ajah!.”

It worked!
Secara ajaib mereka bisa “dikendalikan” dan bermain tenang.
Hasilnya, kami bermain dengan lebih “bermutu”.
Lebih baik dari sebelumnya karena akhirnya kami mau berpikir juga.
Kami sadar juga, akhirnya, kalau permainan sebelumnya cuma bikin cape.

Tapi hari ini aku senang karena walaupun kalah, aku mempelajari sesuatu.
null
Aku merasa seperti menjadi orang yang berbeda dari biasanya.
Entah kenapa aku berpikir lebih jernih.
Kejadian-kejadian di lapangan terbaca dengan jelas.
Sehingga, aku bisa mengambil keputusan bijak dan menciptakan peluang-peluang brilian.
null

Aku belajar bahwa,

“Jika kita mau mengendalikan pikiran,
dan memberikan fokus sepenuhnya pada apa yang sedang kita hadapi saat ini,
kita mampu melakukan apapun dengan lebih baik,
dan akhirnya, tujuan pun dapat diraih.”

Berpikir tenang, tanpa perlu memedulikan emosi, melibatkan tim, itu adalah cara terbaik untuk mendapatkan apa yang bersama-sama kita inginkan.
Dan yang paling penting…
Bersenang-senang!

1 Response to "Lebih Tenang, Lebih Jernih"

Yep, you’ve got that rite, baby. Tanpa kerja sama dengan orang lain kita ga bakal dapet apa pun secara maksimal. And sometimes we also forget that every game is a G A M E. And game’s supposed to be F U N!!!!

Leave a Reply