Posted by: Andika on: November 21, 2008
Suatu hari sepulang latihan…
Hari Senin, 18 November 2008, jam 06.00 sore.
Hari sudah gelap…
Aku dan mas Dodo, pelatih basket tercinta di SMA 3, pulang bareng.
Mas Dodo mau pulang ke Toko (dia punya distro yang dia suka sebut Toko)
Kebetulan jalannya searah rumahku.
Jalan Pandanaran rame banget kalau sudah mulai jam enam sore.
Kita naik motor masing-masing, konvoi pelan-pelan di pinggiran jalan sambil ngobrol.
Waktu itu kita berhenti di bang jo (lampu lalu lintas di perempatan) KFC Pandanaran.
Mas Dodo mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih bisa aku ingat…
“Dika… Kamu dah kelas 3. Tapi ta lihat, Kamu masih suka ikut latian (basket). Masih suka main basket terus. Gak kayak Hima, Dani, Haris (temen-temen setimku yang juga kelas 3). Mereka dah mulai jarang banget dateng latian. Mungkin nanti kalo ada event, Kamu bisa ta turunkan. Kalo mau.“
Lalu pelan-pelan, aku jawab pernyataan mas Dodo itu…
“Bener mas… Lha dah gimana lagi, aku dah CINTA MATI. Aku dah cinta mati og, mas, sama basket.”
Tidak begitu serius menjawabnya waktu itu.
Walaupun memang begitu yang sedang benar-benar aku rasa.
Mas Dodo tidak langsung menjawab.
Baru setelah sempat berpikir dia angkat bicara…
(Sekarang dia sambil senyum-senyum, penuh dengan kebijaksanaan ^_^ )
“Memang bener, Dik… Kita bisa bedakan, antara orang yang CINTA, sama orang yang SUKA. Sangat beda kalau kita liat orang yang cuma SUKA basket. Dia merasa, tidak jadi masalah kalau dia gak ngelakuin…”
“Hmm…,” aku angguk-angguk.
Lalu dia melanjutkan…
“…Tapi beda, Dik, kalau dia CINTA. Dia gak bisa kalau gak basket. Dia MESTI tidak pernah lepas dari bola basket. Kalau tidak, badan serasa sakit semua, kepala pusing-pusing, perut mual…”
(Walah! Yang terakhir ini kayanya agak berlebihan ya… ^_^ )
“Ini aku rasakan dari sewaktu masih SMA, sampai sekarang aku sudah mau nikah sama mbak Windi, Dik,” pamer mas Dodo.
Mas Dodo bilang itu membuatku berpikir…
Bener juga ya…
Selama ini yang aku rasakan tentang basket, sama seperti apa yang mas Dodo katakan barusan.
Tidak bisa aku di rumah, di sekolah dan di lapangan tanpa bola (basket).
Dalam sehari tidak ada bola, tidak memain-mainkan bola di tangan, pasti serasa ada sesuatu yang hilang di dalam tabuhku.
Tidak ada suara “jduk!” bola yang membentur lantai, tidak ada bola yang lewat di antara kaki, tangan, belakang punggung, tidak ada lompatan…
Rasanya sama seperti jantungku yang ada dalam tubuhku ini diambil.
Untuk itu, pasti aku akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan lagi jantungku yang diambil itu.
***
Belum sempat aku mau bicara, lampu sudah hijau.
Tidak jadi aku bicara.
Mas Dodo sudah jalan duluan.
Langsung saja aku susul dia dari belakang.
Jalanan masih ramai…
Aku menyebelahi motor mas Dodo, kali ini aku diam tidak bicara.
Cuma naik motor saja beriringan-iringan.
Aku merenungan percakapan singkat tadi di bang jo.
Mas Dodo berbelok ke arah Toko-nya sambil berpamitan.
Kita mulai berpencar di Simpang Lima.
Apa yang kupelajari hari ini dari pengalaman tadi adalah…
Kita tidak cukup hanya suka, entah itu pada olahraga, seni, ilmu pengetahuan, atau bahkan seorang wanita idaman, juga keluarga.
Sudah selayaknya kita lebih mencintai sesuatu itu, terlebih yang kita miliki.
Dengan begitu, ketika ada yang mangambilnya, atau sesuatu menjadi lebih buruk, kita akan berusaha keras untuk mengambilnya lagi, membuatnya menjadi lebih baik, lebih berarti.
Apapun yang terjadi.
Itulah yang aku dapatkan…
Pengalaman ini mungkin akan menjadi cerita untuk anak-anakku, juga pemain-pemainku di masa mendatang.
Bagaimana dengan Kamu?
Bagaimana perasaanmu pada sesuatu yang Kamu sukai?
*Respect
Itulah rasanya kalo dah cinta…
April 30, 2009 at 10:32 am
sama dengan aku.. Aku begitu cinta ma IT. Begitu cinta ma internet. Ga ngenet sehari saja, rasanya ada yang kurang. Ga peduli speedy over kuota sampe ratusan Mb aku tetep ngenet. He..he..